Sunday, August 4, 2019

Forest Talk - Hutan Riau Dulu dan Sekarang

Foto Ilustrasi, sumber: Unsplash




Begitu mendengar undangan acara Forrest Talk - Lestari Hutan dari Yayasan Doktor Sjahrir pada bulan Juli kemarin, saya merasa mungkin inilah saat yang tepat untuk bertanya atau mengetahui keadaan sebenar hutan Riau yang hampir, nyaris gundul dari propinsi ini. Tetapi, lebih dulu ini adalah pengalaman pribadi saya bagikan mengenai 'perasaan' saya terhadap negeri ini juga hutannya, dulu dan sekarang.

Sebelumnya sebagai penggemar kegiatan outdoor seperti kemping dan hiking, bisa dipastikan saya jarang bisa benar- benar 'menginap' di 'hutan', meskipun ada sungai yang masih asri tetapi pohon alami tidak ada lagi. Seringnya kami kemping di kebun sawit atau getah warga kawasan. 


Sumber: okeinfo.net


Di tahun 2011 dulu saya dan beberapa teman tidak sengaja menemukan desa yang mempunyai hutan adat walau memang bukan lagi dipenuhi pohon primer jaman dulu kala, tapi desa tersebut merawat sebidang tanah ulayat yang dinamakan Hutan Larangan Adat di daerah Kampar.

Untuk masuk ke tempat tersebut kita harus lebih dahulu meminta izin pemuka masyarakat dan mengikuti ritual doa mareka. Area pepohonan itu mungkin lebih tepat disebut pugaran ketimbang hutan karena mareka memang hanya menjaga satu bidang kecil yang dikelilingi sawah, jejeran pohon buah- buahan, karet atau sawit.

Pugaran kecil itu tentu tidak terlalu terlihat jika kita terbang diatasnya, terlebih lagi Riau kini terkenal dengan tanah 'botak' berpetak- petak hingga tak heran jika kali pertama datang orang- orang (terlebih lagi turis ketika saya menjadi pemandu mareka) akan menanyai saya kenapa ranah Melayu ini kosong melompong. Jikalau mareka melihat kehijaun dari atas, bisa dipastikan itu adalah kawasan sawit dan pepohonan untuk industri lainnya.

Kemudian di tahun 2017 saya juga kebetulan menyaksikan pembalakan liar disaat sedang kemping di area Kampar. Bonggol - bonggol kayu terlihat 'hanyut' mengahmbat aliran sungai, disana- sini badan pohon yang ditebang itu mulai coklat menghitam yang menurut seorang warga setempat telah lama tenggelam, tidak mampu di bawa para pembalak dan dibiarkan membusuk. Lingkar pohon- pohon itu bisa dibilang cukup besar menandakan bahwa mareka telah hidup cukup lama, liar dan sehat yang membuat saya berpikir apakah masih ada kawasan lagi di Riau ini yang bisa saja luput dari pantauan?



Sumber: merdeka.com


Rasanya cukup mustahil di era ini karena sebagai penduduk asli Riau dan membesar di era 80an dan 90-an, saya masih ingat dengan jelas tetangga- tetangga yang bekerja sebagai pengemudi truk lintas Sumatra yang mengangkut bonggol- bonggol kayu besar. Hampir raksasa, bahkan paman terbesar di perumahan pun tidak dapat melingkarkan tangannya pada bonggol kayu tersebut.

Rombongan truk akan melaju di jalan besar dekat rumah, sembrono tanpa diikat, berat dan doyong. Terkadang satu truk hanya mampu membawa satu pohon yang di potong- potong karena saking besarnya. Ini adalah kegiatan harian saya ketika kecil, memperhatikan jejeran truk yang membawa pohon, membunuh hutan, ekosistem dan satwa yang berlindung padanya (kegiatan ini masih berlangsung sampai sekarang meski truk hanya membawa pohon- pohon kurus kecil).


Sumber: Detak Indonesia

Selain penebasan hutan, kakek tetangga pun ikut mendapatkan untung dari para supir yang beliyau bayar untuk mencari pohon gaharu dan cendana. Kenangan potongan pohon  dengan bau khas yang di jemur memenuhi halaman dan anak tangga masih segar diingatan. 

Itu adalah masa- masa dimana transmigrasi masih digalakkan oleh pemerintah pusat. Berhektar- hektar hutan ditebang, dibakar dan dicungkil. Baik oleh pemerintah, swasta, suku asli Riau (Sakai dan Talang Mamak yang hidup berpindah- pindah mengikuti musim) maupun tentu saja cara ilegal. Terutama dalam penebangan pohon. 

Point penyebab diatas adalah faktor yang membuat faktor lainnya tersulut. Sebagai propinsi yang mempunyai demographis tanah berawa dan gambut,  jika satu faktor rusak maka akan merambat, tidak mengherankan beberapa tahun lalu tanah disekeliling rumah saya terbakar secara tiba- tiba saat siang panas karena pemilih tanah menebas semua pohon dan membiarkan tanah mareka kosong sedangkan dibawahnya adalah gambut yang rawan.

Setelah berbicara mengenai faktor utama pohon, kita tidak bisa mengabaikan faktor satwa. Berita mengenai binatang yang hangus terbakar, gajah yang lari ketakutan ke kampung warga (sering disalah artikan sebagai binatang yang mengamuk tanpa 'alasan'), diselundupkan (seorang teman pernah membeli anak harimau Sumatra) adalah hal yang biasa ketika saya membesar dulu. Bahkan pada suatu hari sebuah bayi beruang madu hitam (yang kami kira anak anjing) masuk kedalam sekolah kami, ketakutan bersembuyi didalam loker meja saya (ah kasihan, saya tidak ingat lagi apa yang terjadi padanya).


Sumber: Tirto


Semua kekacauan diatas adalah akibat faktor alam yang diganggu (dirusak) dengan sengaja oleh manusia atas nama peradaban.Terkadang kita tidak sadar bahwa tindakan kita berimbas balik cepat atau lambat. Memang sering tidak terlihat kasat mata tapi begitu gambut terbakar atau tanah tidak mampu lagi menampung air, maka terjadilah bencana asap dan banjir.

Riau tidak mempunyai jajaran bukit atau gunung, oleh karena itu lanskap negeri ini hampir datar. Karenanya jika kabut asap datang, tidak ada 'benteng' dan seluruh Riau hingga kedaerah tetangga pun turut merasakan asap tebal. 

Ditahun 1996 atau 1997 adalah tahun pertama kalinya saya merasakan bencana kabut asap, semua orang saling bertanya- tanya bahkan pasa supir truk pengakut bonggol pohon heran dan mengeluhkan bahwa mareka bisa saja mengalami kecelakaan jika terus mengemudi dengan jarak pandang yang pendek. 

Kabut asap amat sangat  tebal berbau turun menyelimuti kota, lampu= lampu jalanan dan rumah dinyalakan siang hari. Kegiatan sekolah dan kerja masih terus berjalan sampailah semua siswa jatuh sakit dan mobil ambulance datang silih berganti membawa siswa serta memberikan kami masker juga oksigen baru.

Kejadian yang sama kembali terulang di tahun 2015, kali ini kita lebih maju pada aset teknologi (BMKG) sehingga kita mampu memonitor (potensi) titik api. Disertai dengan kemajuan pulalah, kita bisa mengukur seburuk apakah kondisi tanah dan keadaan hutan kita.


Sumber: BMKG Riau


Sayangnya kemajuan hebat tersebut tidak dibarengi dengan majunya pola pikir dan keingian kita untuk mengetahui serta memahami keadaan persekitaran kita. Menutup mata, alfa dan meremehkan kekuatan dan potensi hutan bukan hal yang baru. Kenangan akan deretan hutan lebat penuh pohon beraneka ragam yang seakaan berlari kebelakang ketika kami sekeluarga menaiki kendaraan di masa kecil saya dulu akan menjadi kenangan yang akan selalu saya simpan sebagai kenang- kenangan sebagai seseorang yang beruntung menyaksikan betapa rimbun dan teduhnya Riau dulu pernah.


August 04, 2019 / by / 3 Comments

3 comments:

  1. Waktu pohon Riau gedegede gitu aku belum lahir kak.....
    Begitu brojol pohonnya udah kecil hutan nya tipis

    ReplyDelete
  2. Ah kamu yakin? Pohon yg gede saat ini pohon uang di bank

    ReplyDelete
  3. Untungnya Anney blum bilang om om telolet om ya
    Haha
    Pasti jga masih lucu lucu nya walo hobinya menganalisa keadaan sekitar

    ReplyDelete

Post Top Ad