Monday, June 18, 2018

Microhabitat - Film Unik Dari Korea Bebas Oppa Ganteng



Okay, hi there, selamat datang ke www.annsolo.net  dan ini adalah post tentang film/movie pertama web ini, yang- lagi, adalah website untuk tulisan PALUGADA: apa lu mau, gue ada. Sejatinya saya, Ann Solo memang hobi membatin berpikir/menganalisa dalam hati  dihampir semua hal kemudian menuangkannya menjadi tulisan. Alright. 

So, Movie Night kali ini akan mengulas independent film dari Korea Selatan yang memang terkenal unik dan odd, if I must say; totally out of your box. Dimulai dari judul film itu sendiri; Microhabitat, dalam hati saya berpikir; apakah ini film tentang mahasiswa biology yang drop-out lalu menemukan species baru?.


Well, no. 

Sejujurnya saat itu saya sedang bosan dan mulai browsing mencari film yang bukan produksi Hollywood maupun yang terlalu over the top, karena saya sendiri memang menggemari segala seni yang diproduksi secara independent. Sebelumnya saya sudah menonton beberapa film unik dari Korea dan jadi penggemar berat  Bae Do-Na, doi menjadi ikon quirky di negaranya sendiri karena tidak mengikuti norma manis-sexy-mulus-akting ogah aneh  para aktris perempuan lainnya. Doi, saking begitu uniknya hingga menjadi muse bagi Wachowski Bersaudara (bersaudari lah, sekarang ya).

Nah, begitu melihat aktris utama film ini membuat saya langsung suka dan sedikit nostalgia dengan Bae Do-Na di awal 00-an. 
Then how was the movie?.

This is definitely a spoiler, guys, so be prepared. Brace yourself.

Tokoh utama film ini adalah perempuan usia awal 30-an yang pekerjaan paruh waktunya adalah menyediakan jasa permbersihan rumah dan pekerjaan utamanya adalah merokok dan minum whiskey. Yearp, kamu tidak salah baca. 

Mengelap debu.


Bliyau ini berprinsip: kesenanganku hanyalah rokok dan whiskey, aku akan melakukan apa saja untuk menikmati kedua hal itu. Meskipun harus rela tidak lagi mengontrak kamar dan nebeng tidur dirumah teman-temannya (padahal sudah tidak bertemu dan berhubungan lagi sekian tahun lamanya). Duh, gengges juga doi sampai rela packing semua barangnya dalam koper dan ransel, manggul tas dan menyeret koper berat kesana- kemari demi menghemat duit untuk tetap bisa merokok dan minum.

Harga rokok yang meroket cukup signifikan adalah trigger awal doi menjadi gelandangan, bermodalkan nostal-GILA masa lalu, doi mulai mendatangi teman satu band-nya dulu. Meskipun punya pacar (yang kebetulan lebih muda) namun itu tidak membantu sama sekali karena si pacar pun tidak kalah miskinnya dan tentu saja tidak dapat ditebengi.

Harga rokok naik, sis. 


Teman pertama yang bliyau datangi mempunya karier yang sedang melesat, menolak bliyau dengan alasan tidak dapat berbagi rumah memandang itu adalah hal yang sangat privasi (padahal punya 2 kamar, lho). Selfish much, indeed.

Sang tokoh utama, yha, sangat nrimo dan legowo berlalu pergi dengan pikiran masih tetap positif (kalau saya sih, pasti sudah sewot). Perjalanan dilanjutkan menemui teman berikutnya yang tinggal bersama suami dan mertuanya dan menginap 1 malam di gudang. Sedikit informasi, tokoh protagonist kita adalah wanita yang selalu melihat sisi positif dalam segala hal, mengutamakan kebebasan jiwa daripada dibelenggu system (pekerjaan, keluarga, kemapanan finansial) sangat kontradiksi dengan keadaan masyarakat muda Korea saat ini (dan factor inilah yang menjadi daya tarik serta daya jual film ini).

Sebat dulu, sis!


Teman kedua yang bliyau temui dulunya adalah penikmat hidup dan kibordis handal di band mareka, namun setelah menikah kehilangan arah dan passion, menjadi ‘pelayan’ bagi suami dan mertuanya (tradisi yang masih dianut di Korea sana). Dikarenakan segan oleh pertengkaran didalam keluarga si teman, mbak protagonist akhirnya memutuskan untuk cabut setelah bersih- bersih rumah (doi suka sekali bersih- bersih dan menganggapnya bakat karena itulah doi menjajakan jasa bersih rumah sebagai pekerjaan paruh waktu). 

Sedih banget, sekali lagi doi menyeret barang-barangnya dan kali ini mengunjungi temannya yang kebetulan sedang  berkabung ditinggal cerai istrinya (nikah baru berapa bulan). Sewajarnya orang yang lagi stress dan nangis melulu (sambil memandangi semua kenangannya di laptop), rumah si teman ini sungguh sangat kotor dengan sampah makanan dibiarkan berserakkan di ruang tamu dan pakaian kotor yang menggunung. Oya, mbak tokoh utama ini bernama Mi-So, yang mulai mengemas dan mengepel bahkan memasak (akhirnya si mbak bisa masak lagi). Akan tetapi, pacarnya mbak Mi-So ini cemburu dan keki melihat si mbak menumpang di rumah teman laki, jadilah si mbak Mi-So (yang anehnya bisa dibilang lugu, sedikit tolol tapi keras kepala) pun, keluar dari rumah temannya padahal si teman juga tidak genit, malah sibuk dengan urusan patah hatinya sendiri menangis didalam kamar dan ogah keluar.

Pacar tak guna!


Somehow, mbak Mi-So yang meneruskan nebeng-nginapnya malah menumpang dirumah vocalist utama band-nya, mas lajang berumur kesayangan emak dan bapaknya yang berharap banget si mbak Mi-So jadi menantu mareka. Kedua orang tua kocak ini rela melakukan apa saja hingga membajak ruang tidur tamu dengan pura- pura lagi menjemur cabe kering dan memindahkan kasur kedalam kamar si mas lajang. 

Obsesi kedua pasangan tua ini membuat mbak Mi-So ketakutan (ya lah, sampai doi di kunci dari luar ketika semua orang rumah keluar kerja) dan untungnya berhasil melarikan diri, kali ini menemui temannya yang jadi kaya mendadak karena dapat suami tajir melipir. 

Tokoh teman perempuan kali ini sepertinya memang mewakili tipikal perempuan Korea yang; kaya, banyak basa- basi bermanis mulut, make-up selalu on point, fashionista/sosialista,  membangun imej bersih nan manis tetapi aslinya kasar dan bermulut pedas. Tipikal seperti ini hampir selalu ada dalam K-drama, deh.

Mi-So diizinkan tinggal karena si teman kaya ini merasa hutang budi dan memang could afford a guest to stay with them, jadinya mbak Mi-So diberikan kamar tamu yang luas dan kamar mandi yang ada bathtub-nya. Saya tidak tahu berapa lama mbak Mi-So tidak mandi (tapi ada adegan bliyau mandi kilat di toilet umum, mengeringkan rambut dibawah mesin pengering tangan) hingga bliyau sungguh menikmati waktu mandinya dengan syahdu.

Lagi- lagi konflik muncul yang mengakibatkan Mi-So kembali kejalanan, dan kali ini agak lebih berpikir logis; doi pun mulai hunting kamar kosong. Sangatlah tidak mudah, mulai dari harga yang melebihi budget, eh, begitu ketemu yang sesuai harga malah tidak ada listrik, kumuh dan luar biasa kecil, sempit. 

Lalu Mi-So mendatangi salah 1 rumah kliennya, sang klien ternyata berada dirumah saat itu, merenungi nasibnya yang tiba- tiba hamil dan terancam harus merelakan apartment-nya (ternyata si klien adalah pelakor/pelacur). 

Kesialan macam apa ini?!.

Tenang, mbak Mi-So kita tetap optimis dan setelah mendengar curhat serta masak untuk si klien, doi menemui sang pacar yang pamit berangkat kerja ke luar negeri. Mareka berpisah penuh haru biru (literally biru, karena perpisahannya shooting di subuh buta dimana langit masih gelap membiru).

Homeless dan kedinginan, Mi-Soo mengunjungi bar favorite-nya, eh masih sial juga, harga whiskey juga ikut- ikutan naik. Menimbang sejenak, Mi-So tetap memesan minuman kesukaannya itu dan duduk di sebelah jendela (tempat duduk biasa doi kali ini dipenuhi orang- orang) sembari memandangi salju yang turun.

Tak berapa lama, si mas lajang itu kedatangan teman- teman band-nya saat orang tuanya meninggal, mareka membicarakan Mi-So dan awkwardly berusaha menghindar (merasa bersalah juga, kali ya), bertanya- tanya apa kabarnya si Mi-So dan berada dimanakah doi sekarang.

Dan, kita akan mendapati sekelabat gambaran Mi-So yang rambutnya kini memutih (duh, Korea ya, tidak pernah hilang akal untuk mengenalkan penyakit unik mapun yang dibuat-buat, Mi-So mengalami penyakit aneh, rambutnya akan memutih kalau tidak minum obat khusus). Masih merokok, minum whiskey dan menyeret barang, tentu saja tetap membersihkan rumah orang (tas kecil berisi peralatan bersih- besrih itu so iconic, terutama kemocengnya). 

Rambut yang berpenyakit aneh/unik.


Terus, dimanakah bliyau nebeng kali ini?.

Mungkin akibat jera dan tidak ingin lagi merepotkan orang- orang, Mi-So kini tinggal didalam TENDA, ditepi sungai Han alias dibawah jembatan. Ekstrim memang, mana musim dingin lagi, kan.

Film ini memang layak ditonton, selain berbeda dari film maupun K-drama nan manis-gulali biasanya, film ini juga bisa sedikit menyentil kamu, yang berpikir bahwa Korea itu hanyalah berisi Oppa cakep mentereng, romantisme dan segala yang berkilau (fashion, boy/girlband dan makanan enak). Nyatanya tidak, Korea, sama seperti negara lainnya juga mempunyai sekelumit masalah, dalam hal ini adalah pekerjaan, rumah yang hangat dan keluarga yang menjamin imej anak- anak mareka dalam pertemanan ataupun mendapatkan jodoh yang layak. 

Foto yang jadi pegangan Mi-So ketika menghubungi semua teman lamanya kembali.


Selain itu, film ini juga menyentil tentang passion kita dalam hidup. Contohnya Mi-So, ya passion doi cuma rokok dan whiskey, membuat doi rela mengorbankan apa saja termasuk kenyamanan dan keamanan diri sendiri. Memang sih, ini passion yang tidak masuk akal, tidak sehat malah. Saya pasti lebih memilih give up itu rokok dan alcohol mengikuti logika untuk lebih sehat, ya kali, demi obsesi tidak masuk akal, kok mau sih, jadi gelandangan. Anyway, relita hidup memang begitu adanya, beberapa orang memilih jalan seperti itu termasuk mbak Mi-So.

Buat kamu yang menggemari cerita romantic, all shiny with material stuff, tokoh- tokoh yang well-polished dan ogah berakting konyol, kamu bisa skip film ini. This movie hanya buat mareka yang appreciate sesuatu yang real dan membumi, terutama the leading lady yang unik dan bebas make-up tebal berkepribadian kuat, tahu apa yang bliyau mau.


Trivia: film ini adalah debut sutradara perempuan Jeong Go-Woon yang tidak hanya menyutradarai tapi sekaligus menulis film ini. Salute! 




June 18, 2018 / by / 1 Comments

1 comment:

Post Top Ad