Wednesday, June 20, 2018

Duck Butter - Bukan Film Tentang Paten Mentega Bebek



Dari judulnya; bebek, lalu mentega, sudah membingungkan. Nah, itulah mengapa saya antusias menonton film ini terlebih lagi ada si Alia Shawkat, meskipun doi bukanlah aktris kelas A ataupun tipikal leading lady, namun sebagai peran pembantu pun, doi menurut saya sudah bisa dikategorikan scene stealer actor. 

Hi there, jumpa lagi di Movie Night. Kali ini saya me-review film yang bisa dibilang unik, indie, dan, dengan harapan setelah kamu membaca review ini; kamu bisa memutuskan untuk tetap menonton atau malah skip sekalian saja. Mau tahu kenapa?.

Seperti biasa ya, spoiler alert, ahead!. So, here we go!.

Duck Butter ini bukan film tentang 2 orang wanita yang tiba- tiba memutuskan untuk menjual paten mentega bebek mareka (karena di poster ada 2 imej perempuan) dan bukan juga cerita petualangan feminis melawan kaum patriaki. Ini, 100% adalah cerita cinta 2 orang wanita lesbian.

Kedua tokoh utama kita kali ini adalah mareka yang trauma dan pernah disakiti sebelumnya baik itu dalam hubungan dengan lelaki, sesama jenis maupun dari orang disekitar mareka. Oleh karena itu mareka mengalami trust issue dan tidak tahu bagaimana menjalin suatu hubungan yang sesungguhnya.

Menurut info, film ini tidak mempunyai skrip dialog yang solid, hanya berupa ide lalu tanpa banyak cincong langsung diterjemahkan secara visual, jadi jangan heran kalau plot dan dialog, komunikasi, reaksi verbal dalam film ini begitu lemah. 

Menurut saya ide film ini cukup simple; 2 orang asing yang bertemu kemudian saling tertarik satu sama lain, menghabiskan 24 jam bersama, saling curhat, sex, makan, sex, masak, buang air, sex, jalan- jalan di sekitar kompleks rumah, mainin taik anjing, sex. Yearp. Nudity, adegan intim kedua perempuan ini sangatlah ekplisit di film ini.

Film ini mungkin terinspirasi dari film Perancis tentang 2 orang asing yang menghabiskan 1 hari total bersama, tetapi bagi saya film ini mengingatkan saya kepada Blue Is The Warmest Color. Auranya mungkin ya, yang mirip. 

Bedanya disini kedua tokoh hanya saling mengenal kurang lebih 2 hari, minim arah dibarengi  weak plot yang membuat saya bingung; kok, gampang sekali hanya beberapa patah kata lalu si Naima (Alia Shawkat) datang kerumah Sergio (Laia Costa), ngobrol sebentar lalu bercinta.

Sergio, with O dan Naima alias Nima.


Karakter Sergio amat sangat annoying dan emosional, sebentar- bentar nangis, ngambekkan dan moody banget. Sedangkan mbak Naima lebih seringnya bingung, ekspresinya itu lho, bingung melulu. Ini- itu yang Naima lakukan salah saja dimata Sergio.

Sergio ini hobi sekali mengulang cerita di masa kanak- kanaknya: Ibu meninggalkan saya di tengah jalan sendirian sewaktu saya 4 tahun.

Duh, dialog ini terus diulang entah berapa kali, saya sudah tidak sanggup balik menonton untuk menghitung berapa kali si Sergio mengulang hal yang sama.

Berhubung film ini low budget, shooting hanya dilakukan didalam rumah atau sekitar perumahan, secara sinematografi memang tidak ada yang special sih, menurut mata awam saya ini. 

Shooting  memang dilakukan 24 jam non-stop, dengan niat untuk lebih kelihatan real- yang bisa diakui, keletihan dan emosional para kedua aktris ini terlihat jelas. Kurang tidur, kantung mata, maunya senggol bacok, tapi tetap harus acting. Apakah ini menambah nilai plus untuk Duck Butter?. Nah, I don’t think so.

Ending-nya pun jugalah tidak menarik, sama dengan Blue Is The Warmest Color, kedua perempuan ini memutuskan untuk berpisah. Ada satu hal yang bikin saya gengges, Sergio kan, punya anjing yang doi adopsi (dari volunteer doi di NGO), lalu kok, si Naima menemukan si doggo lagi keliaran di jalan setelah mareka broke up (padahal putusnya baru berapa jam)?.

Kurang jelas, apa itu anjing yang sama atau si Naima jadi suka anjing setelah putus dari Sergio?.

Di akhir cerita tokoh Naima menyelamatkan dan mengadopsi anjing tersebut, sementara Sergio kembali menyanyi (dengan suara pas- pas-an kalau tidak sumbang) di café tempatnya biasa nyanyi.

Then I was like: what the?!.

Sungguh tidak ada yang menarik selain saya memang penggemar Alia Shawkat, film ini; bosan, dan kalau kamu lagi bosan, hindari saja dan cari film yang lain. Sex scenes-nya juga terlalu banyak sampai bikin overwhelming, ada beberapa kategori adegan seks yang ‘masuk akal’, ada yang straight up porn (walau di film biasa) ada juga yang ‘adegan-seks-tidak-penting’, seks di film ini ada menempati kategori terakhir. 

Kalau saya bisa mulai memberi rating untuk review Movie Night kali ini, maka Duck Butter berada di rating: 2/10.

So, pilihan ada ditangan kamu, are you curios- intrigued by my short review atau malah turn off?. Share komen kamu di kolom bawah, ya.

Trivia:

1. Laia Costa itu ternyata kelahiran 1985, wow, kelihatan seperti gadis remaja sekali di film ini, memang sesuai untuk peran Sergio yang rapuh dan cengeng khas wanita muda awal 20-an.

2. Mae Whiteman muncul beberapa menit dan cuma semacam cameo, bisa dimaklumi kalau para actor punya squad, mareka akan mengundang teman- teman mareka untuk jadi cameo ya, seperti Alia dan Mae yang di dunia nyata adalah BFF ini. 

3. Ada 1 adegan dimana Sergio boker didapur dan menampung kotorannya kemudian menakuti Naima dan, eeuuw, sorry, saya tidak sanggup lagi meneruskannya.




June 20, 2018 / by / 2 Comments

2 comments:

  1. Ini pilem jenis apa kak nan :3
    Vina ndak pahammmmmm. T.T
    Sepanjang perjalanan kisah filmnya, kayak film ga niat buat film apa gimana sik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film syinta 2 anak manusia..
      Niat, tapi mencoba beda namun kurang arah..
      Ontahlah..
      Buang2 pitih ndak...

      Delete

Post Top Ad