Menjalani New Normal Bagi Penderita Anxiety Disorder

by - Juni 06, 2020




Setelah kemarin dunia harus melakukan karantina besar- besaran (walau tidak semua orang punya kesadaran melakukannya, di samping faktor ekonomi), bulan Juni menjadi awal mulanya new normal. Perkantoran mulai buka dan orang- orang kembali bekerja meski tetap harus mengikuti peraturan seperti memberi jarak, mencuci tangan dan  memakai masker wajah.


Ini tentunya membuat orang seperti saya yang menderita anxiety disorder dan panic attack menjadi tambah cemas. Disatu sisi saya harus mulai masuk kerja, disisi lain, selain ketakutan karena saya kemana- mana mengandalkan ojol yang jelas- jelas mempunyai kemungkinan resiko penularan tinggi, untuk keluar ke halaman saya saja sudah paranoid apalagi pergi ke kota dan keramaian.



Paranoya saya ini tidaklah berlebihan atau tanpa alasan. Saya yang tidak punya kendaraan pribadi mau tidak mau mengandalkan ojol yang random dan telah melakukan banyak interaksi dengan banyak orang sehingga sedikit tidaknya membawa sesuatu di tubuh mereka. Belum lagi saya punya 2 keponakan bayi dan balita, orang tua yang sudah tua, yang mana mereka akan sangat rentan tertular.



5 Kegiatan Seru Selama PSBB Bebas Bosan, Suntuk dan Mati Gaya




New Normal of Abnormal


Untungnya, kantor saya masih memberlakukan WFH entah sampai kapan (mungkin masuk kembali awal Juli?). Jadi paling tidak saya bisa merasa tenang tapi sesungguhnya saya masih sakit dada dan keringat dingin tiap ingat harus keluar rumah dan naik ojol lagi.


Sama seperti artikel saya kemarin, sebenarnya ini juga artikel curhat saya mengenai pandemi corona dan segala yang berhubungan dengannya. Kalau kemarin karantina, sekarang adalah new normal. Tetap saja saya stress dan cemas memikirkannya. 


Sedangkan new normal itu sendiri sangat tidak normal karena kita akan selalu diikuti ketakutan dan paranoya. Ditilik kebelakang, saya pernah demam panas hampir 40 derajat. Saat itu rasanya saya bisa melihat hal- hal aneh saking panasnya suhu tubuh. Sialnya lagi, saat itu juga lagi musim flu babi atau swine flu. Mana saya juga harus terbang keluar negeri dan tinggal disana 3 bulan.




Menghadapi Corona Untuk Penderita Gerd, Borderline Personality Disorder dan Panic Attack (Kecemasan)




Teman- teman yang saya temui saat itu juga baru pulang dari perjalanan luar negeri mereka dan mereka semua positif kena swine flu. Padahal saya juga sempat nongkrong bersama mereka sambil berpelukkan dan berinteraksi fisik seperti biasa. Mereka semua dilarikan ke rumah sakit dan harus berada dalam karantina.

Saya sendiri mungkin karena awalnya sudah demam panas (saya juga heran karena dokter cuma bilang saya demam biasa, oh well, tipikal kurangnya awareness dokter setempat juga, sih ya), jadi tidak tertular swine flu. Ajaib memang. Tuhan punya kuasa. Mungkin Tuhan tahu 3 minggu sebelumnya saya sudah berjuang antara hidup dan mati saat demam panas.


Jadi selain tidak tertular swine flu, saya sendiri mengalami demam panas yang membahayakan (saat itu saya juga kurang awareness) selama hampir 1 bulan dan penyesuaian untuk kembali pulih sekitar 2 minggu. Saya sendiri telah beberapa kali mengalami sakit panas tinggi selama hidup sampai seluruh tubuh kebas dan halusinasi.



Kalau dilihat kembali, saya sangat bersyukur walau apa pun penyakit demam saya saat itu, saya masih bertahan. Dari situ juga saya melihat kalau kita sudah mengalami peningkatan mengenai pengetahuan akan sebuah penyakit. Kita lebih aware, lebih terbuka dan teredukasi. Ini membuat saya semakin percaya kalau virus ini memang sudah dirancang sedemikian rupa sama seperti swine flu 1 dekade lalu. Heh!




You May Also Like

0 comments