Friday, April 20, 2018

Bukan Urusan Situ!

Pic : www.unsplash.com

Kalau perempuan kepo itu rasanya wajar banget ya, tanya kenapa saya masih jomblo, kenapa kok, keliatan awet muda- apa rahasianya, tapi kenapa kalau laki yang tanya kenapa saya jomblo sampai memojokkan itu, rasanya seksis dan misoganis banget. Belum lagi dengan nada patronizing, situ kagak kenal saya kenapa harus tanya dan bernada seperti itu?.

Bahkan mareka sampai ke pertanyaan apakah saya lebih memilih perempuan, apakah saya ‘dingin’, apakah saya masih perawan, apakah saya bahkan bukan perempuan tulen. Mareka akan ‘menasehati’ dengan ‘sebijaksananya’ mungkin; bahwa kodratnya perempuan itu ya, harus jadi bininya bagi si lelaki.

My Goat!.

Seringnya kadang yang ngomong begini adalah orang- orang yang tidak saya kenal apalagi mareka mengenal saya, baru kenalan saja sudah tanya begini, bikin empet, deh. Pendapat yang cukup dewasa dari teman adalah bahwa para lelaki ini tidak bahagai jika ia sudah menikah, dan sendirinya tidak laku karena pribadinya buruk jika ia masih lajang. Juga kali ti*itnya kecil. Setuju.

Beberapa minggu lalu saya di kenalkan oleh teman kepada teman kantornya, di awal perkenalan (lewat Whatsapp) semuanya terlihat wajar; asal dari mana, umur, tanggal lahir, hobi, pekerjaan dan pertanyaan standard lainya. Nah, selang seminggu (padahal juga chatting nya juga ala kadar dan tidak setiap hari), mulai deh, doi bertanya tentang semua diatas, melalui audio call yang karena itu saya bisa bilang dengan nada patronizing.

Okay, pertama doi lebih muda 6 tahun dari saya- yang mana doi telah menganggap saya seorang perempuan 30-an yang telah putus asa dan akan rela menikahi siapa saja daripada tidak menikah sama sekali. Kedua, doi bertanya tentang sejarah percintaan saya. Ketiga, apakah saya masih perawan ting-ting apa bukan (serious shit, doi bilang ting-ting). Apakah saya punya kecenderungan seksual yang aneh, kinky, vanilla, BDSM, atau bahkan biseksual. Hal seperti apakah yang akan menaikkan gairah seksual saya (duit, coba kasih saya duit 100 milyar, pasti saya horny), apakah saya punya riwayat penyakit yang bisa mematikan, menular atau genetika. Mampukah saya mengandung dan membesarkan anak nantinya?. Apakah saya punya tato, bekas luka dan korengan (belum tahu doi, saya di panggil FrankeNda oleh sahabat- sahabat karena saya punya beberapa bekas luka yang menurut mareka cool). Bagaimana menurut saya kalau doi kawin dua, kira- kira Jokowi akan menjabat lagikah, kemarin saya nyoblos Prabowo apa Jokowi, bisakah Ahok kembali ke jalan yang lurus, tidakkah Tesla terlalu muluk- muluk. Sebaiknya saya menjawab, saya mendapatkan cemoohan dan tawa kecil mengejek; tahu apa sih, kamu perempuan soal yang ‘serius begitu’?.

Semua bullshit di atas membuat saya kontan berteriak HAIL HYDRA yang mebuat doi kebingungan dan bertanya- tanya; ‘Kamu kenal cowok yang namanya Hydra?’.

HAIL HYDRA!.

Pilihan tentang music, film dan buku juga tidak ada titik temu. Doi adalah penganut ‘apapu-yang-trend-gue-ikutin-walaupun-gue-kagak-ngarti’, music adalah yang nge-beat bisa di joget-in, film mengikuti apa yang lagi booming di bioskop (nonton Avengers, tapi tidak bisa membedakan mana Marvel atau DC, please jangan ngomong jelek soal my king T’challa atau saya akan tombak sampean dari Wakanda kemanapun sampean lari), bahkan yang lebih parahnya; doi benci sekali membaca, jangankan buku, artikel berita saja bliyau ini ogah baca. Jenis manusia apa kau, ini, hah?!.

Sampai disini, kita semua pasti setuju kalau lelaki ini so enggak banget, bisa di buang ke laut saja nambah sampah yang merusak biota laut, tetapi- tidaklah semua manusia itu penuh kekurangan melainkan mempunyai kelebihan juga.

Dan mempunyai wajah yang rupawan, body yang bagus, karir yang mapan dan kemampuan sosialiasi yang mumpuni adalah, sayangnya, tolak ukur seseorang itu sukses menjadi dan menjalani hidupnya. Ketika lelaki belum juga menikah setelah kriteria di atas lengkap; pasti dia lagi selektif, masih mau bersenang-senang, atau jaman sekarang; gay.

Apabila si perempuan juga mempunyai kriteria di atas (buruknya saya tidak masuk kriteria itu, nahas banget), dan masih melajang- perempuan ini bisa jadi; lesbian, tidak perawan/perawan tua yang takut lelaki, tamak, egois, kalau make-up nya di hapus pasti jelek, terlalu berebihan menuntut jodoh yang sempurna, punya penyakit tersembunyi, mandul, hysteria, bisa jadi mentally ill, high maintenance, bodoh tidak terpelajar dan berbudaya. Serta semua negative label lainnya yang mungkin lebih parah dialami oleh perempuan- perempuan di luar sana.

Entah berapa banyak kali saya harus berhadapan dengan tipikal lelaki seperti ini yang- membuat kecewa adalah mareka yang mempunyai imej bagus di masyarakat dengan kerja dan materi yang menggiurkan belum lagi pendidikan yang mareka enyam dulunya; S1, S2, S3, STONNGTONG, SKRIMAICE, SKRIMWALLS apapun, lah, tidak menjamin para lelaki ini berbudaya, mempunyai common sense yang peka maupun empati terhadap lawan jenis mareka.

Berbudaya harusnya erat dengan berpendidikan, tapi justru tidak selamanya mareka berdua ini bisa berbarengan. Dulu sekali satu contoh, saya mengenal seorang teman yang tidak pernah menamatkan sekolah SMU-nya, tapi bliyau adalah seorang yang amat sangat berbudaya, bahkan berpendidikan!. Jaman sebelum Google mengetahui apapun di muka bumi ini, perpustakaan dan semua bahan bacaan konvensional  merupakan sesuatu yang bikin kita semua mengejarnya hanya untuk mengetahui sesuatu kejadian dan informasi (seringnya telah lama berlalu namun masih valid). Bliyau ini menghabiskan waktunya dengan membaca, mendengarkan orang (jaman sekarang semuanya mau ngomong tapi ogah mendengar), menganalisa orang, mendidik dirinya, mengasah otaknya secara otodidak. Sensitifitas muncul sebagai bibit yang mengakar menjadi budaya; memahami orang dengan karekter mareka masing- masing, latar belakang pola asuhan orang tua, kebiasaan, adat istiadat, gaya yang di pakai dan selera yang di sukai.

Bliyau ini yang menurut buku teks sekolah saya dulu (tidak tahu kalau sekarang, ya) adalah contoh rakyat yang fakir ilmu juga biasanya akan disertai dengan fakir materi. Somehow tidak semua orang bisa di golongkan dengan labelisasi serupa karena manusia akan berevolusi.

Jika saya membandingkan lelaki blangsak di atas dengan teman saya ini, pasti masyarakat akan menilainya jomplang, padahal menurut saya justru teman saya inilah yang harusnya lebih unggul. Meskipun dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal tinggi namun bliyau adalah seorang pengusaha sukses, patron of arts!. Bliyau mempunyai koleksi buku- buku langka (sorry uncle, I lost that Tagore book entah dimana), piringan hitam klasik dan bahkan lukisan- lukisan mahal original karya sang seniman langsung di beli kontan!.

Tidak sekalipun- menurut istri dan anak-anaknya, bliyau ini merendahkan mareka dan berkata kasar dengan nada patronizing khas seksis dan misoganis. Bliyau lebih menganggap kaum perempuan adalah penggerak motor kehidupan sejati; Ann, we men won’t be here without our mothers.

Sungguh bikin baper sekali!.

Asuhan utama dari masa kecil seseorang itu amatlah berpengaruh, yha, bisa jadi si lelaki blangsak mempunyai keluarga yang dimana ayahnya adalah sosok patriaki ‘sejati’ yang menempatkan wanitanya di ‘posisinya’. Kamar dan dapur. Sosok ibu memang di muliakan tetapi juga terbatas di bawah sosok ayah. Apaan coba?. Pernah mikir tidak sih, kok bisa begitu?. Surga di bawah telapak kaki ibu, tapi kenapa bapak menempatkan ibu di ranjang dan dapur saja. Di pamerin dikit- dikitlah sesekali.

HAIL HYDRA!.

Terus kita rada heran, ada ya hari gini model yang beginian masih berkeliaran di masyarakat jaman now, ya masih dong. Yang memproduksi kids jaman now adalah kids jaman old yang masih hidup dan belum pensiun. Kids antara jaman old dan now juga masih banyak dan mulai membentuk keluarga mareka sendiri yang biasanya nih, lebih rasional dan seimbang. Yha, semoga saja produk hasil kids jaman menengah lebih masuk akal.

Di masa depan saya harap para perempuan dan lelaki tidak lagi saling seksis, misoganis dan semua term yang mengaju pada pembedaan gender secara menyakitkan itu akan segera jadi mitos dan bahan tulisan di buku sejarah pada tahun 2050.

Lalu, lalu bagaimana nasib si lelaki blangsak tadi?. Well, saya tidak banyak berkata- kata karena saya merasa dia itu beyond saving; tidak bisa di selamatkan lagi. Juga ini bukanlah kasus serupa pertama yang saya alami, beberapa orang sebelumnya kini telah ‘terselamatkan’ oleh pikiran logis mareka sendiri setelah saya konfrontasi. Coba deh mas, abang, akang, mau perempuan itu punya bekas koreng, perawan apa tidak, pernah melahirkan sebelum dia sama situ atau mampu melahirkan apa tidaknya, cantik rambut lurus panjang kulit putih bagai kunti, tomboy atau feminine, semua kelebihan dan kekurangannya tidaklah membuatnya kurang perempuan. Hello, para perempuan di sebut perempuan itu memang dari pabriknya setelah di tentukan oleh Tuhan, lengkap dengan alat kelamin pembedanya adalah akan tetap menjadi seorang perempuan terlepas dia punya maternal instinct, bisa cetak bayi- bayi apa tidaknya. Apa urusannya situ yang sibuk banget menilai dan menghakimi mareka?. Emangnya situ orang jaksa penuntut umum dari surga?. Tuhan tidak butuh bantuan jaksa, bro.

Lagian juga, benar kata-kata jadul ini deh; cinta itu buta, karena jika sudah cinta kita akan menerimanya unconditionally, sekelam apapun masa lalu seseorang itu tidak akan pernah menjamin masa depannya juga turut kelam. Etapikan manusia berevolusi kan yak, dari monyet jadi manusia bisa, masa merubah penyesalan menjadi prestasi dan cinta tidak bisa?. HAHA. Yha toh, lek?.

Saya pernah jualan onde-onde narkoba dulunya apa tidak, pernah jogged- jogged di dangdutan massal apa tidak, punya 11 mantan pacar yang bisa saja manejeri untuk bikin klub sepakbola (plus kamu jadi cadangannya) apa tidak, itu semua bukan urusan situ. Itu urusan saya sama Tuhan saya, cukup. Kenapa sih, nambahin beban hidup dan dosa dengan menguak aib dan kepoin hidup orang lain (itulah kenapa saya tidak follow akunnya Lambe Turah dll), you can go f*ck yourself and let others live in peace.

Oh, kalau kamu sudah merasa cukup dengan pendidikanmu, mungkin ini saatnya menjadi manusia yang berbudaya, ajari dirimu untuk menempatkan dirimu di posisi orang lain sebelum kamu menyakiti dan menggores hatinya dengan perkataanmu (karena jika kau gores pakai pisau, kau ku laporkan ke polisi!). Rasanya gampang kok, mikir sebelum mulut berkoar, ya toh?.

Berikut ini adalah kira- kira cuplikan adegan dialog saya dan si blangsak:

Blangsak : Jadi, kamu tidak butuh laki-laki?. Kamu terlalu pemilih, lihat umurmu makin naik, lho. Nanti keburu keriput dan layu, mana ada yang mau? (terus ngikik seram).
Saya : HAIL HYDRA!!!
Blangsak : SIAPA ITU HHYYDDRRRAAAA????!!!!



April 20, 2018 / by / 5 Comments

5 comments:

  1. Wahahahahaa...
    Ikut berapi api juga aku bacanya.. pengen nabokkkk.... hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesungguhnya saya ngakak wkt teleponan sm doi yg ngoceh tanya2 hal blangsak gtu, asli suaranya songong banget sok iyes aja..ahaha juga pengen nabok pake sendal jepit, jadi laki kok gini2 amat..emosi kan, cha..ahaha sendirinya emang tabok-able nih lakik..

      Delete
  2. Kok gw berasa kayak lagi baca novel seri2 harlequin :D sini kasi gw 100 M gw pun mauu nan

    ReplyDelete
  3. Aku pernah nulis ala harlequin gtu pdhl gue anti bgt..ahaha iseng aja sih..ahaha nnt la aku coba publish di wattpad ku 😆😆😆😆 smp 100 season 1000 episodes..ahahaha

    ReplyDelete

Post Top Ad