Auntiehood

by - April 07, 2018

Pic: www.unsplash.com

Ketika adik perempuan saya masih mengandung, berolok-olok saya mengatakan kepada seorang teman baik bahwa saya akan menjalani motherhood. Saat itu saya tidak terlalu berpikir panjang betapa repot dan susahnya mengurus seorang bayi, saya- mengurus bayi, mulai dari membersihkan kotorannya, meracik susu formulanya dengan takaran tepat seimbang, hingga berusaha mengetahui di setiap arti tangisan bayi yang ternyata berbeda. Dulu sekali saya pernah lihat salah satu episode dari The Oprah Winfrey Show tentang setiap tangisan bayi itu mempunyai makna dan tujuan berbeda. Yeah right!

Ada gitu ya, orang- orang yang mengususkan hidup mareka mengabdi mencari tahu hal seperti ini. Padahal kan sih, bagi telinga kita ya kalau nangis, ya nangis aja, mau itu masuk angin, susu agak panas, lapar, mengantuk, bahasa bayi ya cuma tangisan universal. Oooeeekkkk!

Anyway, begitu bayi adik saya brojol, saya merasa jatuh cinta dan sumringah banget saat melihat wajah merah keriput kecilnya itu. Dia begitu, uh, besar- lahir dengan berat hampir 4 kilogram, namun saya takut untuk menggendongnya untuk pertama kali- karena saya sedikit clumsy dan kepikiran si bayi akan kesakitan di pelukan saya. Tetapi dia begitu anteng dan terlelap, aduh, saya tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya menggendong bayi- bayi yang pernah saya gendong untuk pertama kalinya. Seperti beberapa keponakkan sebelumnya dan beberapa anak dari teman-teman baik saya.

Setiap hari saya selalu memainkan wajah kecil sang bayi di ingatan, ingin cepat pulang kerumah dan bermain dengannya yang masih belum bisa bereaksi terhadap nyanyian dan lelucon konyol (plus doktrin-doktrin) saya. Senyum akan mengembang di wajah tanpa sadar, seakan kasmaran. Mungkin begitulah rasanya punya anak untuk pertama kalinya, kali ya?.

Namun, sampai sekarang saya belum mampu membersihkan kotorannya seorang diri (walaupun saya pernah impromptu membersihkan kotoran keponakan yang lain dan seorang bayi random berumur 1 minggu ketika saya masih 18 tahun, saya lupa bayi siapa persisnya, mungkin tetangga seseorang, ketika semua orang dewasa bertanya dengan heran kenapa saya bisa membersihkan kotoran bayi seorang diri, saya merasa lebih heran lagi kenapa saya bisa). Apalagi memandikannya, keponakan saya baru saja berulang tahun yang ke-1, dan memandikan bliyau ini adalah suatu pekerjaan yang butuh tenaga esktra dikarenakan bliyau sedang dalam masa-masa aktifnya.

Bayi di usia bisa mulai berjalan justru lebih membutuhkan perhatian dan tenaga ekstra (juga kemauan yang berkobar) untuk meladeni dan mengawasinya. Contoh, keponakan saya itu somehow, just like me, is nocturnal. Semakin malam, semakin melek. Jarang sekali saya mendapatinya tertidur ketika saya sampai dirumah pukul 10 malam keatas. Pasti itu bocah, kalau tidak merengek, ya ketawa- ketawa main di kamar. Aduh, denger ketawa dan tangisnya bisa bikin senang dan sedih, terutama jika bliyau menangis meraung- raung, hati ini bagai diiris sembilu. Ciyus!

Nah, di saat bliyau sedang aktif, kiat sebagai dewasa yang sedang mengawasinya harus ekstra melek, lengah sedikit bliyau akan jatuh dari tempat tidur, kejedot atau memakan sandal. Keponakan saya mempunyai obsesi aneh dengan sandal. Lil dude is sandal eater. Saya jadi ingat nih, namu kerumah teman dengan sandal baru, anjing tetangganya nyomot sandal saya, dikunyah dan di biarkan jatuh tergeletak 50 meter dari rumah. Sandal baru gitu, lho!

Sejauh ini keponakan saya beberapa kali kejedot, jatuh dari kasur (yang membuat kita memindahkan kasurnya lebih dekat ke lantai), memasukkan random object ke mulut serta hal absurd lainnya. Sekilas detik lalu bliyau sedang tertidur pulas, sepersekian detik berikutnya kita akan mendapatinya tegak bengong di ujung kasur. Ajaib! Jujur, kadang saya takut, kayaknya harus dikasih stopwatch untuk memastikan berapa lama saya mengalihkan pandangan darinya. Benar apa tidak, dia bisa tidur, bangun dan tegak secepat kilat begitu.

Keponakan saya yang satu ini adalah salah satu sahabat terbaik saya dalam hidup ini, tahun lalu ketika saya mengalami demam (akumulasi sakit tahunan yang langganan) dan diare (ditambah menstrual cramps yang ampun, dah, kumplit), saya terbaring disamping si bayi dan menangis menahan sakit, lalu, man, I’ll never forget this: sang bayi memeluk wajah saya, menciumi setiap air mata yang mengalir ke pipi saya!. Seolah- olah bliyau kecil ini mengerti sakit dan arti tangisan saya. Tangan kecilnya memeluk erat leher saya, bibirnya yang mungil menciumi pipi saya yang basah.

Dan ajaibnya, sakit perut saya mulai berkurang (dude, heavy flow period is sick!), mood saya jadi lebih baik dan semangat makan saya mulai kembali (kalau kamu lagi menstruasi dan kehilangan selera makan, paksalah dirimu untuk tetap makan karena tubuhmu sedang membutuhkan bantuan).

Untuk beberapa saat bliyau kecil berbaring dalam dekapan saya sampai ia mulai kembali aktif, melempar atau menggigit mainan-mainannya (padahal saya butuh di peluk lebih lama, lho).

Ada banyak hal yang menurut saya ajaib, hampir mukjizat dan juga pelajaran berharga yang saya dapat dari keponakan kecil ini. Tiap hari tanpa henti dia membuat saya terkagum- kagum pada kemampuan-kemampuan baru yang di tunjukkannya. Hanya kepada saya seorang dia akan menyapa: Hai!. Hai, hai, hai..

Darimana sang bayi bisa mengetahui kata Hai dengan tepat dan hanya ditujukan khusus pada saya seorang (dia akan memanggil yang lainnya; Eh!), ternyata meskipun baru lahir dan berada di 3 bulan awal, otak bayi menyerap dan menyimpan semua ingatan di alam bawah sadarnya. Saya selalu menyapa Hai kepada bliyau yang- direkam dan dimainkannya kembali ketika ia mulai bisa mengucap bentuk kata. Hebat!. Hai itu Cuma untuk saya seorang lho, kalau ada anggota keluarga lainnya bertanya dimana saya, sang bayi akan menjawab; Hai!. Yang berarti dia mengenali pertanyaan tentang saya dan Hai adalah respon pemahaman darinya. Gilak! Hebat!.

Lalu respon senyum; senyum manis, senyum geli hati (beneran lho, ini), senyum sopan (serius!), senyum penuh arti (artikan saja sendiri), coba, darimana bliyau belajar itu semua?!. Kami berada di swalayan tempo hari, bliyau kecil berada di dalam trolley sedang memperhatikan dua bocah lelaki berumur sekitar 7 tahun-an sedang bermain, respon yang bliyau tunjukkan adalah senyum geli yang akan kita- orang dewasa tunjukkan ketika melihat keadaan yang sama. Untuk sesaat saya tidak tahu harus merasa kocak apa justru takut; bagaimana bayi umur 1 tahun bisa merasa geli hati seperti itu?!. Saya harus minta email orang- orang yang mendengarkan semua jenis tangisan bayi dari Oprah!. Artikan senyum- senyum itu please!. No kidding!.

Juga ketika sang bayi bereaksi atas nyanyian Twinkle Twinkle Little Star yang biasa saya nyanyikan 3 bulan pertama ia lahir. Baru- baru ini saya kembali menyanyikan lagu itu (saya sangat gandrung mengubah aransmen lagu anak- anak dalam versi jazz, metal lengkap dengan grunting-nya,  rock, blues dengan sedikit alternative yang eksperimental, the baby loves it apparently), reaksi pertamanya adalah senyum lebar dan mata yang membulat excited tanda dia mengenali lagu itu dari awal- awal ia di lahirkan. 

Man, so dope!

Mungkin begitu bliyau kecil bisa berbicara dengan artikulasi yang baik, ia akan kembali mengulang hapalan doktrin- doktrin yang selalu saya bisikkan ke telinganya; you is smart, you is kind, you is beautiful, you is perfect, pemerintah harus mendengarkan rakyatnya, lakukan revolusi menggulingkan rezim kediktatoran, sosialis bagi masyarakat yang adil, Allah itu satu dan esa, baca semua buku, Luke Skywalker ternyata bukan Jedi terakhir, dukung penuh kebebasan visa agar kita bisa traveling kemana saja, Palestina adalah negara bebas berdaulat utuh dan dukung agar ia kembali berdiri tanpa Israel, kita tidak membenci negara kita- kita membenci pemerintahan yang korup dan kapitalis, setiap generasi harus beradaptasi dan menerima pembaharuan demi bertahan dan relevansi, music adalah hal terindah kesekian setelah Adzan, pembacaan Al-Quran, panggilan nama menang lotere, setelah semua orang berkata SAH dan selamat-bayi-dan-ibunya-sehat.

Can’t wait!



You May Also Like

0 comments