Struggling Minimalist - Mencari Pakaian dengan Warna yang Sesuai

by - Juli 15, 2020





Secara random saya ketemu sebuah konten mengenai gaya hidup minimalist yang sedikit mempunyai topik yang sebelumnya (seingat saya) belum pernah saya dengar dari podcast atau konten minimalist lainnya. Kalau rata- rata pembicaraan minimalist menyinggung pembelian dan penggunaan pakaian, YouTuber ini memberikan sedikit ‘warna’ dengan mengatakan bahwa ia sekarang lebih memilih pakaian yang lebih sesuai dengan warna kulit dan personal style-nya.

Iya sih, kebanyakan minimalist lebih menekankan jumlah pakaian seminimum mungkin dan, warna dasar seperti hitam, putih dan abu. Somehow saya belum ketemu minimalist yang warna- warni pelangi atau saya masih kurang mencarinya. Tapi intinya minimalist sekarang identik dengan serba minim dan warna pakain dasar yang seakan terasa, kurang greget.

Sebenarnya minimalist itu sendiri bukan berarti menghilangkan warna, hanya saja bagi beberapa konsep, warna yang terlalu banyak bisa membawa kecemasan dan memberi image yang sangat berisik. Makanya mungkin warna- warna minimalist lebih cenderung kepada warna- warna yang kalem, subtle dan datar (?).

Balik lagi kepada YouTuber yang saya lupa siapa namanya tetapi berhasil memberi saya ide, saya terpikir untuk memakai warna- warna yang lebih flattering di kulit saya dan personal style saya sendiri. Hanya saja, tidak mudah menemukan warna yang pas untuk saya di antara banyak warna dan Pantone (ahahaha sekarang bagi saya warna dan pantone itu 2 hal berbeda tetapi tetap warna, bingung ya?).

Kalau bicara zodiac, saya berada dalam naungan Capricorn yang mempunyai elemen tanah. Jadi harusnya saya lebih sesuai dengan warna- warna earthy tone dan mungkin sedikit warna laut/air karena Capricorn itu kambing laut. Aneh memang, kambing dengan ekor ikan dan hidup di dataran tapi pandai berenang? Silahkan pikir sendiri.










Menurut teman saya, saya cocok dengan warna- warna navy dan light blue, sedikit pink, range warna hijau dan kuning. Sayangnya tidak semua warna coklat atau earthy tone sesuai dengan saya, jadi pewarnaan berdasarkan zodiac dan elemennya memang tidak bisa menjadi panduan.

Sedangkan secara ‘logika’, warna yang sesuai dengan kita bisa dilihat dari undertone kulit kita. Undertone sendiri umumnya terbagi tiga; cold, neutral or warm. Saya berada pada tone neutral dengan wajah condong pada cold tone dan tubuh condong ke warm tone.

Complicated memang. Karena keseluruhan tubuh kita tidak mempunyai 1 tone saja melainkan bisa campuran dari ketiga-nya. Ini yang membuat mencari warna yang sesuai menjadi lebih sulit.

Pada dasarnya saya lebih banyak memakai pakaian dan hijab yang polos saat ini. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, saya lebih memilih hijab dengan motif- motif yang meriah karena tren saat itu memang meriah. Tapi sejak 4 tahun ini saya lebih banyak memakai warna- warna polos meski terkadang juga memakai hijab motif dengan paduan pakaian polos.

Karena rasanya warna- warna polos akan terlihat less troublesome kalau dipadu padankan. Namun ya, tentu saja tidak selalu begitu. Kadang saya membeli warna ‘Pantone’ yang begitu unik sampai saya sendiri tidak tahu mengelompokkan warna itu entah biru, hijau atau ungu. Maka dari itulah, warna- warna yang membingungkan itu saya sebut Pantone saja seolah- olah warna itu baru ditemukan dan tidak pernah ada sebelumnya.

Padahal tidak begitu sih, kan yang menciptakan warna adalah Tuhan, kita hanya baru bisa melihat jelas semua tones dan hues dengan bantuan teknologi saat ini..ehehehe










Lalu, lalu, saya juga mempunyai beberapa pakaian bercorak mulai dari bunga- bunga, abstrak dan absurd hingga geometric yang sebaiknya dipakai saat sedang trend saja (kalau dipakai saat bukan trend, entah kenapa terlihat tacky dan outdated banget, aduh, sorry!). Saya juga masih struggling dalam memadukan pakaian saya jadi kadang saya heran saat saya menang sebagai well dressed person atau dapat pujian karena dibilang berpakaian sangat baik.

Ketawa juga, tapi bersyukur juga, bagus juga orang- orang melihat sisi yang baik itu dari saya. Aslinya saya sendiri memang suka fashion dan kadang- kadang sok tahu sekali..ahahaha padahal saya cuma tahu apa yang menarik dan padan saja. Meski memang saya sering bereksperimen dalam fashion, selebihnya saya pakai apa saja yang nyaman karena saya mau point kenyamanan dan kepraktisan over style jadi nomor 1.

Makanya banyak orang- orang minimalist terlihat nyaman dengan fashion dan pemilihan warna mereka, itu karena mungkin mereka tidak harus mikir banyak kalau ingin keluar rumah, kali ya? Pakaian kerja, pakaian nongkrong, pakaian tidur apapun itu- ya hitam, putih atau abu- abu saja. Simple memang. Tapi memikirkannya saja saya sudah jemu. Arkh!

Terlebih lagi saya benci sekali warna abu cenderung silver, so tacky! Mengingatkan saya pada zaman fashion disaster saat SMU dulu, al maklum saat itu kita memasuki milenium baru yang 1 dunia demam dilanda anything silver futuristic style. Termasuk saya. Ya sendal, sepatu, sampai jaket pun ada silver-nya. Arkh!

Okay, lupakan masa 2000 itu, dimana Spice Girls pun ikutan futuristic. Arkh!

Kembali ke saat sekarang ini, saya rasanya akan terus berusaha mencari item dan warna pakaian serta style yang lebih sesuai dengan saya. Susah memang, terlebih lagi disaat yang bersamaan saya harus berpikir logika dengan membeli yang essentials saja dan mengehemat duit (yang tidak banyak ini) namun juga fashionable. Kalau bisa dengan warna- warna ‘meriah’ pula.

Okay, mungkin saya akan kembali lagi untuk update mengenai perjalanan minimalist saya di blog ini. Sejauh ini saya sudah berhasil menyingkirkan banyak barang seperti mendonasikan ratusan buku (yearp!), pakaian- pakaian, sepatu dan barang- barang remeh temeh yang tidak spark joy selain nimbun debu.

Semoga saja saya bisa menepati niat ini dengan menampilkan foto kondisi saya sudah sesuai dengan konsep minimalist saya sendiri suatu hari nanti. Yearp. *sigh.













You May Also Like

0 comments