Wednesday, March 21, 2018

Fu*kboy

Pic: www.unsplash.com

Di budaya mainstream, Fuckboy adalah seorang pria yang tidak menghormati para wanitanya tapi bergantung kepada sang wanita. Seorang lelaki yang menjaga jarak, tidak perduli pada waktu orang lain dan tidak mau berkomitmen. Ia adalah seorang tipe lelaki yang narsistik, egois dan tidak mencari hubungan serius jangka panjang.

Kamu adalah salah satunya?. Coba cek.

Penjelasan di atas bisa membuat kita yang membacanya jadi berpikir; gila, iya saya pernah ketemu cowok jenis gini, atau, mantan saya dulu begini. Saya ketemu semua diatas, teman baik saya sendiri seorang Fuckboy (secara harafiahnya), serta mantan saya dulunya adalah Fuckboy (maunya fun tanpa komitmen).

Sebagai yang berteman dengan cowok jenis Fuckboy ini, saya merasa prihatin terhadap semua pasangan mareka, dianggap pacar sekaligus ditutupi dengan bayangan. Like, yea I love you, fuck me tonight terus hilang tanpa bisa diandalkan. Yang lucunya- ironis malah, semua Fukcboys ini malah sangat care ke saya, these boys are good friends to me, some even my closest ones. Kalau mareka bisa menyayangi saya hingga sejauh mendonorkan darah mareka (kiasan yang lebay) untuk saya, kenapa justru ke pacar- pacarnya jadi begitu cuek dan jangankan untuk di mintai tolong, di telepon saja sering tidak di jawab. But they called me everyfuckingminutes cuma untuk mengecek saya butuh bantuan apa tidak, perlu di jemput, perlu makan, perlu duit, perlu morphine, perlu asupan ganja, perlu korban untuk di tinju. Intinya, para Fuckboys ini adalah sahabat yang baik tapi mimpi buruk sebagai pasangan kekasih.

Contoh kasus yang paling parah adalah ketika pacarnya teman mengadu kepada saya- tidak hanya mareka berpacaran selama 6 tahun tanpa niat di seriusi, juga sang wanita mengalami kekerasan secara fisik dan mental. Mau tahu jenis lelaki yang telah menganiaya kekasihnya sendiri itu seperti apa?.  Dengan berat hati saya akan bilang; dia adalah lelaki yang tidak hanya sebagai sobat kental bagi saya, dia juga merangkap abang- supir pribadi- pejaga saya. Kontradiktif banget, ya?

Bagaimana mungkin dia yang begitu menyayangi saya seperti adik perempuannya sendiri bisa sampai hati memukul kekasih perempuannya pula?. Jawabannya adalah emosi, rasa memiliki dan lunturnya rasa hormat hanya karena mareka telah bersama sejauh itu (dalam duka dan suka- si lelaki) pada si perempuan. Baginya, si pacar adalah miliknya yang bisa di mainkan sesuka hati. Bagi sang wanita- dia adalah lelaki ada dan tiada.

Lalu seperti apakah mantan saya, si Fuckboy itu?. Well yea, dia tidak pernah melakukan kejahatan fisik maupun mental, hanya kehadirannya saja sering bolong di turus dinding hati saya. Mungkin dia tidak sebegitu Fuckboy-nya, dia masih ada ketika saya membutuhkannya, somehow menikmatinya tanpa banyak usaha selama kami bersama. Dia berusaha mendukung pilihan hidup saya, mimpi dan cita- cita saya, saya di paksa mendukung penuh semua omongannya tanpa syarat serta tidak boleh protes jika itu bertentangan. Sekali lagi contoh kasus; lukisannya saat itu sangat aneh tidak menarik, obnoxious terlalu penuh pride dan pembaziran pada kanvas tetapi saya harus tetap memuji bahwa itu lukisan yang bagus (sedangkan semua teman kami dan klien mengatakan sebaliknya- lukisan itu masih saya miliki dan saya titipkan pada sahabat saya yang tiap sebentar mengeluh karena saya tak kunjung membawa lukisan itu pulang).

Saya di tuntut selalu ada 24 jam seminggu penuh (saat itu kami adalah partner dalam usaha kecil- kecilan), stand-by layaknya dokter magang. Ada saat ketika saya jatuh sakit, doi memberikan seribu alasan untuk tidak mengunjungi saya apalah lagi membawa saya ke klinik (another good Fuckboy friend took me to the doctor), setelah seminggu solid dengan riangnya ia datang, memaksa saya berpakaian dan mampir di drive-thru McDonald’s, membeli bubur ayam yang- kemudian dimakan sambil berkendara dengan saya di minta menyuapkan bubur itu ke mulutnya. Wow. Yeah I know, right?.

Dan adanya tuntutan kesana dan kemari selalu berdua mendorong saya ke titik jenuh- betapa tergantungnya ia kepada saya di dalam ketidak-perduliannya itu. Telling you guys, dude was pain in the ass.

Suatu hari yang saya tidak akan pernah lupa; dia mengajak saya lari pindah ke Paris untuk mendukung penuh impian saya menjadi seniman (masa muda yang penuh impian naïf) dengan mencuri duit dari orang tuanya, ia mengajak saya kabur.

“Saya bisa membayangkan kita di studio apartment, kamu dan kertas- kertas tulisanmu yang berserakkan di lantai, dan saya dengan kanvas dan botol cat disudut ruangan, melukismu”.

Baper, tidak?.

Untuk sekali dan mengejutkan itu, dia sang Fuckboy sejati mengucapkan komitmen untuk menetap dengan saya (walau harus melakukan ‘perampokkan’ terhadap orang tuanya sendiri). Selama yang saya bayangkan tentang apa yang ada di dalam isi otaknya adalah nama saya ada disudut terkecil dan tidak begitu signifikan. Ketika dia pergi berlibur ke Jepang, dengan santainya dia hanya membelikan saya beberapa batang cokelat sedangkan dia shopping dengan jumawanya disana; membeli jacket bodoh Bathing Ape yang (saat itu sedang trend) konyol dan luar biasa mahalnya. Jadi, walau dia begitu menyukai jacket itu, doi membiarkan saya memakai jacket itu hingga lusuh (aww).

Kenapa akhirnya kami memutuskan untuk  berpisah kini begitu kabur di ingatan saya- selain kami hanyalah bocah-bocah kurang pikiran pada saat itu (saya berumur 22 tahun sedangkan dia muda 3 tahun dari saya). Namun ketika saya bertanya kembali padanya apa yang terjadi, dia akan menjawab bagaimana saya menjauh dan menjadi susah untuk dihubungi- hanya akan menghubungi doi ketika saya sedang butuh saja atau kebetulan sedang nongkrong disekitar area tempat doi tinggal.

Well then, guess I’m the Fuckgirl anyway.

March 21, 2018 / by / 0 Comments

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad